Lintas Bisnis.com Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap, pameran Allpack Indonesia 2019 yang berlangsung pada 30 Oktober – 2 November 2019 merupakan upaya dan sekaligus membantu di dunia industri 4.0 dapat menyerap tenaga kerja. Jadi saat ini tren di dunia industri yang dapat menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber, untuk pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik.
Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil, Muhammad Khayam mengatakan, sektor industri makanan dan minuman, dan migas merupakan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional. Sektor ini telah memberikan pada produk domestik bruto (PDB).
“Sekitar 5% diraih dari sektor migas, dan 62% pada industri makanan dan minuman di sektor plastik sangat prospektif sekitar 52%. Sehingga sangat keterkaitan dengan industri lainnya. Bahkan dapat menyerap tenaga kerja hampir 77 ribu. Di industri plastik bahkan dapat menyerap tenaga kerja hingga 22 ribu akan lebih meningkat. Kita harapkan dalam Allpack ini diperkenalkan beberapa penerapan teknologi,” ujar Khayam dalam pembukaan Allpack yang dilaksanakan di JIE Expo Kemayoran, Jakarta pada hari Rabu ini, (30/10/2019).
Menurut dia, ini diperlukan setelah Peraturan Pemerintah (PP) No.45 tentang Research and Development dan program vokasi. Untuk menghiasi layar ekspor maka diperlukan dengan ketersediaan bahan baku, produksi baru dan inovasi, sehingga dapat meningkatkan daya saing. Juga adanya peningkatan pada tenaga kerja Indonesia.
“Sukses pameran Allpack ini tidak hanya industrinya yang akan terangkat dan maju, tetapi juga akan meningkatkan ekspor yang bernilai tambah. Industri 4.0 kita perlukan pada transfer teknologi, diharapkan dari industri plastik bisa dapat terintegrasi dari hulu sampai hilir,” tutur Khayam.
Sementara itu, Business Development Director Indonesia Packaging Federation, Ariana Susanti mengatakan, saat ini perkembangan industri kemasan merupakan industri yang terbesar dari industri makanan dan minuman, farmasi dan industri lainnya. Industri Kemasan masih sangat penting apalagi dengan bertumbuhnya ekonomi digital. Untuk itu diperlukan dengan tampilan yang harus lmenarik, berkualitas dan berdaya saing tinggi. Termasuk pergeseran tenaga kerja ke digitalisasi.
“Harusnya generasi millenial berani tampil lebih maju lagi di Indonesia dan startup menjadi tumbuh dan model baru di bisnis digital,” tutur Arana.
Menurut dia, pasar di Indonesia masih nomor satu di jajaran industri negara lainnya. Industri makanan dan minuman penyumbang pada negara sebanyak Rp100 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 6-8%. Dengan aneka kemasan dan smart packaging, disitu banyak teknologi baru yang berkembang, kepraktisan sesuai dengan market.
Sedangkan, Ketua Umum Daur Ulang Plastik Indonesia, Christine Halim menyampaikan, peluang ekspor Indonesia dari industri kemasan peluangnya sangat bagus untuk pasar Eropa.
“Kalau diperusahaan kami tidak ada kendala bahan baku dan rakyat Indonesia makin banyak, dan tentunya sampahnya juga makin banyak untuk di daur ulang. Serapannya lebih banyak ke ekspor. Makanya kami jual bahan baku setengah jadi dengan 70% ke lokal dan impor 30% atau sekitar satu juta ton dari pendaur ulang lokal Indonesia,” tandas Christine.
Kemudian Gabungan Pengusaha Makanan dan Minumal Adhi S.Lukman menyampaikan, untuk kontribusi industri makanan dan minuman merupakan peluang yang mengalami pertumbuhan sangat baik.
“Tahun ini dari makanan dan minuman penyumbang 36,2% sedangkan di tahun lalu 35,5%. Industri makanan dan minuman penunjang sebagai penyumbang ekonomi Indonesia, jadi industri makanan dan minuman akan menjadi pasar potensial di domestik dan global,” ungkap Adhi.
Adhi berharap, di pameran Allpack ini akan ada teknologi terbaru untuk efisiensi pada industri makanan dan minuman. Di era teknologi ini kedepannya akan terus berkembang, agar dapat menerapkan efisiensi dari hulu ke hilir dan bisa membantu efisiensi.
Salah satu cara untuk menumbuhkan perekonomian Indonesia semua sangat tergantung pada industri makanan dan minuman bila kondusif, sehingga perindustrian sangat mendukung.
“Kita butuh kolaborasi semua Kementerian untuk membantu di industri makanan dan minuman agar tumbuh lebih baik,” tutur Adhi.
