Home / News / ADINKES Dorong Tenaga Kesehatan Manfaatkan AI untuk Perkuat Edukasi Masyarakat

ADINKES Dorong Tenaga Kesehatan Manfaatkan AI untuk Perkuat Edukasi Masyarakat

LINTAS BISNIS – Asosiasi Dinas Kesehatan (ADINKES) menggelar Lokakarya Nasional ADINKES 2026 di Harris Hotel & Convention Bandung, pada 3–6 November 2026. Mengusung tema “Kolaborasi Menuju Layanan Primer Kuat”, kegiatan ini menjadi forum koordinasi nasional untuk memperkuat implementasi program kesehatan dan meningkatkan kualitas layanan primer di berbagai daerah.

Lokakarya tersebut diikuti pemerintah daerah, jajaran dinas kesehatan, serta kepala puskesmas dari berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah materi strategis dibahas, mulai dari pengendalian stunting, kolaborasi penanganan AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria, penguatan layanan hipertensi, dokumen akreditasi, 13 indikator baru Kinerja Berbasis Kompetensi (KBK), hingga perencanaan BOK dan PPK BLUD berbasis kecerdasan buatan (AI).

Selain sesi pembelajaran, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian penghargaan, di antaranya Hipertensi Terkendali Award 2026 serta apresiasi kepada berbagai pihak yang berkontribusi dalam penguatan sektor kesehatan.

Salah satu agenda penting dalam lokakarya tersebut adalah penguatan literasi kesehatan yang berlangsung pada 4–5 November 2026. Materi disampaikan oleh sejumlah praktisi di bidang kesehatan, komunikasi, dan teknologi digital.

Para narasumber yang hadir yakni dr. Iskandar Z.A., M.Sc. praktisi edukasi dan literasi kesehatan,  Dr. apt. Zaenal Komar, M.A. praktisi farmasi pelayanan kesehatan primer; Dr. Tjetjep Yudiana, M.Kes. praktisi kesehatan masyarakat; serta Didin Yuniardi, S.E. M.M praktisi media komunikasi dan digital AI.

Ketua Umum Pengurus Pusat ADINKES, dr. M. Subuh, MPPM. mengatakan lokakarya nasional ini bertujuan menjadi wadah koordinasi bagi pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan kepala puskesmas di seluruh Indonesia dalam memperkuat pelaksanaan program kesehatan serta peningkatan layanan primer.

Menurutnya, literasi kesehatan merupakan salah satu kunci penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup sehat sekaligus menjadi pilar pendukung keberhasilan transformasi kesehatan.

“Literasi kesehatan menjadi bagian dari kemampuan individu untuk mencari, memperoleh, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi serta layanan kesehatan guna membuat keputusan yang tepat terkait pengelolaan kesehatan diri dan keluarganya,” ujar dr. M. Subuh.

Ia berharap penguatan literasi kesehatan dapat terus menjadi agenda penting dalam penyelenggaraan Lokakarya Nasional ADINKES pada tahun-tahun mendatang.

Sesi literasi kesehatan berlangsung dengan pendekatan interaktif yang melibatkan peserta secara aktif. Tidak hanya berisi pemaparan materi satu arah, kegiatan juga dikemas melalui diskusi, ice breaking, permainan edukatif setiap satu jam, serta pembelajaran berbasis audio dan video.

Suasana pembelajaran dibuat lebih santai dan menyenangkan agar peserta dapat menyerap materi secara optimal. Sebagai bentuk kebersamaan, para peserta yang berasal dari berbagai daerah juga menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dr. Tjetjep Yudiana, M.Kes, bertindak sebagai moderator dan memandu jalannya diskusi dengan suasana hangat serta komunikatif antara narasumber dan peserta.

Dalam pemaparannya, dr. Iskandar Z.A., M.Sc. menekankan pentingnya literasi kesehatan untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat terkait pencegahan penyakit, pengobatan, serta pemanfaatan fasilitas dan layanan kesehatan.

Sementara itu, Dr. apt. Zaenal Komar, M.A. memperkenalkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, termasuk NotebookLM dari Google, sebagai asisten riset, pembelajaran, dan pengolahan informasi berbasis dokumen yang diunggah pengguna.

Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai semacam otak kedua untuk membantu mengelola informasi, memahami materi, dan mendukung proses pembelajaran.

Adapun Didin Yuniardi, S.E. M.M, membekali peserta dengan pemahaman mengenai platform digital, aplikasi kesehatan, kecerdasan buatan, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana komunikasi kesehatan.

Tidak hanya teori, peserta juga diajak mempraktikkan secara langsung penggunaan sejumlah aplikasi AI untuk menghasilkan materi komunikasi yang efektif, menarik, dan mudah dipahami masyarakat.

Melalui pembekalan tersebut, peserta diharapkan mampu mengoptimalkan teknologi digital dalam menyampaikan informasi kesehatan sekaligus memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat.

“Semoga melalui kegiatan literasi kesehatan yang diikuti sekitar 80 peserta ini, mereka mendapatkan manfaat besar dan dapat menjadi change agent sekaligus jembatan penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat di daerah masing-masing,” pungkas dr. M. Subuh.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *