LINTAS BISNIS – Pantjoran PIK menggelar Festival Bacang Pantjoran PIK atau Bacang Fest 2026 pada 19–21 Juni 2026 dalam rangka menyambut perayaan Peh Cun (Duanwu Jie), salah satu tradisi penting dalam budaya Tionghoa yang jatuh pada hari kelima bulan kelima kalender tradisional Tiongkok.
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati beragam aktivitas budaya, kuliner, dan hiburan yang dikemas untuk seluruh anggota keluarga. Festival ini menghadirkan aneka bacang Nusantara hasil kreasi UMKM dari berbagai daerah di Indonesia, workshop budaya, aktivitas interaktif, hingga pertunjukan musik.
Peh Cun merupakan tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari dua ribu tahun dan identik dengan sajian bacang serta perlombaan perahu naga. Tradisi ini berakar dari kisah Qu Yuan, seorang penyair dan negarawan dari Dinasti Chu yang dikenal karena kesetiaan dan integritasnya. Kisah pengorbanannya kemudian melahirkan tradisi melempar bungkusan nasi ke sungai yang diyakini menjadi asal-usul bacang dan perlombaan perahu naga.
Di Indonesia, tradisi tersebut berkembang melalui proses akulturasi budaya yang panjang. Bacang tidak hanya menjadi kuliner khas, tetapi juga simbol kebersamaan, memori keluarga, dan warisan budaya yang terus hidup hingga saat ini.
Hadirkan Beragam Aktivitas dan Hiburan
Bacang Fest 2026 menghadirkan berbagai program yang memadukan budaya, kuliner, dan hiburan. Selain menikmati aneka bacang, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas seperti tarot reading, palmistry, dan aura cleansing.
Suasana festival semakin meriah dengan penampilan spesial dari Kevin Music School yang menyuguhkan berbagai pertunjukan musik dan vokal sepanjang acara.
Kompetisi Bacang Dukung Pelaku UMKM
Salah satu agenda utama festival adalah Kompetisi Bacang yang diikuti oleh 15 UMKM dari berbagai daerah di Indonesia. Kompetisi ini menjadi ajang bagi para pelaku usaha untuk menampilkan kekayaan cita rasa bacang Nusantara sekaligus memperkenalkan tradisi kuliner yang diwariskan secara turun-temurun.
Dari seluruh peserta, lima UMKM berhasil terpilih sebagai pemenang, yakni Ang Huat Kembang Jaya, Bacang JJL, Hao Kitchen, Bacang Lotus, dan Bacang Oma Lili. Kelima pemenang tersebut membuka stan khusus di area depan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) selama festival berlangsung.
Pengunjung dapat mencicipi berbagai jenis bacang, mulai dari resep tradisional hingga kreasi modern dengan pilihan halal, non-halal, maupun vegan.
Operational Manager Pantjoran PIK, Stephanus Adrianta, mengatakan Bacang Fest 2026 dirancang sebagai ruang yang menghubungkan budaya, komunitas, dan kreativitas.
“Bacang Fest 2026 kami hadirkan sebagai perayaan yang menghubungkan budaya, komunitas, dan kreativitas. Selain menghadirkan berbagai pengalaman yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga, kami juga ingin memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan kekayaan cita rasa bacang Nusantara sekaligus berbagi cerita dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
GBTI Gelar Program Edukatif Bertema Peh Cun
Turut memeriahkan festival, Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) menghadirkan sejumlah program edukatif dan interaktif yang terinspirasi dari tradisi Peh Cun. Salah satunya adalah Bacang Tasting yang berlangsung pada 19–21 Juni 2026 pukul 16.00–21.00 WIB. Melalui program ini, pengunjung dapat mencicipi bacang dari lima UMKM pemenang kompetisi serta menikmati sajian teh gratis dari Ming Bao Ji. Program tersebut dapat diikuti oleh seluruh pemegang tiket masuk GBTI tanpa biaya tambahan.
Selain itu, pada 20 Juni 2026, pengunjung dapat mengikuti Chinese Calligraphy Workshop yang memperkenalkan seni menulis karakter Tionghoa menggunakan kuas tradisional.
Sementara pada 21 Juni 2026, GBTI menghadirkan workshop Bacang Treasures dan Decorate Your Own Dragon Boat yang ditujukan bagi anak-anak dan keluarga. Dalam kegiatan tersebut, peserta dapat membuat bacang mini berisi “harta karun” serta menghias dan mengarungkan perahu naga mini di Kolam Guan Gong Pantjoran PIK.
Kurator GBTI, Mitha Budhyarto, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan tradisi Peh Cun secara lebih dekat dan menyenangkan kepada masyarakat.
“Bacang Fest 2026 kami hadirkan sebagai perayaan budaya yang dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Melalui berbagai aktivitas yang interaktif dan edukatif, kami ingin memperkenalkan tradisi Peh Cun dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan relevan bagi masyarakat masa kini,” katanya.
Melalui Bacang Fest 2026, Pantjoran PIK berharap masyarakat dapat menikmati kekayaan budaya Tionghoa yang terus berkembang di Indonesia sekaligus merayakan keberagaman melalui kuliner, tradisi, dan kreativitas dalam satu perayaan budaya yang inklusif.






