LINTAS BISNIS – Harga emas dunia berhasil mempertahankan penguatannya setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah.
Pada perdagangan Kamis (30/7/2026), emas diperdagangkan di kisaran US$ 4.060 per ons setelah sempat melonjak hampir 1% pada sesi sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg. Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga disetujui melalui pemungutan suara dengan hasil 9 berbanding 3.
Perbedaan suara tersebut mencerminkan masih adanya pandangan di kalangan pejabat bank sentral bahwa kenaikan suku bunga tetap berpotensi dilakukan apabila tekanan inflasi terus meningkat.
Ketua Dewan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga bukan berarti bank sentral mulai melonggarkan sikapnya.
Baca juga : Rupiah Melemah ke Rp18.109 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed
“Jika inflasi terus tinggi selama periode proyeksi, suku bunga bisa menjadi bagian dari solusi tersebut, tetapi bukan satu-satunya,” ujar Warsh, Kamis.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat dan menggeser proyeksi ke akhir tahun. Kondisi ini turut menurunkan opportunity cost memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga kembali menarik minat investor.
Sebelumnya, harga emas sempat merosot hampir seperempat nilainya sejak pecahnya perang AS-Iran lima bulan lalu. Penurunan tersebut dipicu lonjakan harga energi yang meningkatkan kekhawatiran suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Meski demikian, aksi beli saat harga melemah (buy on dip) berhasil menopang harga emas di atas level psikologis US$ 4.000 per ons.
Kepala Riset dan Strategi Logam MKS PAMP SA, Nicky Shiels, mengatakan kepercayaan investor terhadap emas mulai kembali pulih.
“Keyakinan mulai tumbuh secara perlahan bahwa ini merupakan sinyal hijau bagi para investor untuk kembali masuk ke pasar emas,” ujarnya.
Menurut Shiels, level US$ 4.200 per ons akan menjadi titik penting (inflection point) yang menentukan arah pergerakan harga emas berikutnya.
Pada perdagangan Kamis pukul 11.25 waktu Singapura, harga emas spot terkoreksi tipis 0,3% menjadi US$ 4.056,50 per ons. Sementara itu, harga perak turun 0,4% ke level US$ 57,48 per ons.
Emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven yang banyak diburu investor ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat. Namun, pergerakan logam mulia tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter The Fed.
Ketika suku bunga ditahan atau diturunkan, daya tarik emas umumnya meningkat karena biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah dibandingkan instrumen investasi seperti obligasi.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi menciptakan dilema bagi pasar. Kondisi tersebut mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai, tetapi pada saat yang sama berpotensi meningkatkan inflasi yang dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.






