LINTAS BISNIS – Harga emas dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (17/6/2026) seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Sentimen positif tersebut muncul setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat menekan risiko inflasi global.
Harga emas spot tercatat naik 0,8% menjadi US$ 4.338,86 per troy ons setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak awal Juni. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus 2026 ditutup menguat tipis 0,1% ke level US$ 4.354,40 per troy ons.
Penguatan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 0,3% menjadi US$ 70,22 per troy ons. Platinum melonjak 2,8% ke US$ 1.816,65 per troy ons, sedangkan paladium menguat 0,7% menjadi US$ 1.358,06 per troy ons.
Kesepakatan sementara yang diumumkan Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata yang telah berlaku sejak April selama 60 hari tambahan. Perjanjian tersebut juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya terdampak konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan prospek berakhirnya konflik menjadi faktor utama yang menopang harga emas dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, peluang tercapainya kesepakatan permanen antara AS dan Iran telah menekan imbal hasil obligasi jangka pendek, menurunkan harga energi, serta mengurangi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent turun di bawah US$ 80 per barel setelah anjlok tajam menyusul pengumuman kesepakatan tersebut. Pelemahan harga minyak dianggap dapat meredakan tekanan inflasi yang sebelumnya meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
Data CME FedWatch menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 sebesar 60%, turun dari sekitar 70% pada pekan lalu. Penurunan ekspektasi ini menjadi katalis positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga cenderung lebih menarik ketika suku bunga diperkirakan tetap rendah.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga emas sempat tertekan akibat melonjaknya harga minyak yang dipicu konflik AS, Israel, dan Iran. Kenaikan biaya energi kala itu mendorong ekspektasi inflasi dan meningkatkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan diumumkan pada Rabu waktu setempat. Pertemuan tersebut menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, dengan pasar secara luas memperkirakan suku bunga akan dipertahankan. Fokus investor tertuju pada proyeksi ekonomi dan sinyal arah kebijakan moneter ke depan.






