Home / News / Pustakawan Kini Jadi Penjaga Memori dan Literasi di Era Digital

Pustakawan Kini Jadi Penjaga Memori dan Literasi di Era Digital

LINTAS BISNIS – Perpustakaan kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menyimpan koleksi buku. Di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan dan pustakawan memiliki peran penting dalam menjaga memori, pengetahuan, serta warisan dokumenter agar tetap dapat diakses dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Hal tersebut mengemuka dalam seminar Guardians of Memory: Libraries, Democratic Literacy, and Digital Preservation in the Trans-Pacific Narrative yang digelar Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dan Fulbright Indonesia, Kamis (13/8/2026).

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI) Joko Santoso menyatakan tema Guardians of Memory menggambarkan tanggung jawab profesi pustakawan. Menurutnya, warisan dokumenter dapat berupa manuskrip, buku, surat kabar, foto, peta, rekaman suara, film, arsip, hingga dokumen digital yang merekam perjalanan suatu bangsa.

Joko menjelaskan, terdapat lima peran pustakawan yang semakin relevan dalam konteks Guardians of Memory, yakni sebagai penjaga memori, penghubung antara pengetahuan dan masyarakat, pemberi makna, pendidik, serta kolaborator. Pustakawan juga berperan membantu masyarakat menemukan sumber yang dapat dipercaya serta mengembangkan kecakapan literasi informasi dan literasi digital untuk menghadapi misinformasi dan disinformasi.

“Pustakawan masa depan bukan penjaga rak buku. Ia adalah penjaga memori, penghubung pengetahuan, pendidik literasi, pemberi konteks dan makna, dan mitra masyarakat dalam memahami dunia,” ujar Joko.

Ia menekankan masa depan perpustakaan sangat bergantung pada masa depan pustakawannya. Perkembangan teknologi, pertumbuhan koleksi, dan kecanggihan sistem tetap membutuhkan pustakawan yang memiliki kompetensi, integritas, rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran akan tanggung jawab sosial profesinya.

Seminar tersebut juga berlangsung dalam momentum 250 tahun Kemerdekaan Amerika Serikat dan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Joko menyampaikan bahwa perjalanan sejarah kedua negara mengingatkan bahwa sebuah bangsa dibangun bukan hanya oleh apa yang dilakukan pada masa kini, tetapi juga oleh kemampuannya mengingat, memeriksa, dan memahami perjalanan masa lalu yang membentuk dirinya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto mengemukakan tiga tantangan dalam pengelolaan pengetahuan saat ini. Pertama, kerentanan dokumen fisik dan objek digital terhadap kerusakan, bencana, keusangan format, serangan siber, serta kehilangan konteks. Kedua, disinformasi yang berkembang di tengah kelimpahan informasi. Ketiga, pergeseran konsumsi pengetahuan dari literatur panjang menuju konten pendek di media sosial. “Karena itu, perpustakaan perlu kita lihat bukan hanya sebagai tempat menyimpan koleksi, melainkan sebagai infrastruktur ingatan, infrastruktur pengetahuan, dan infrastruktur kepercayaan publik,” kata Suharyanto.

Perpusnas, lanjutnya, menjalankan pengelolaan pengetahuan melalui pengembangan koleksi, pengelolaan metadata, layanan perpustakaan, preservasi bahan perpustakaan, promosi sumber informasi terpercaya, serta penguatan literasi informasi masyarakat. Saat ini Perpusnas memiliki lebih dari 3,6 juta judul dengan sekitar 9,9 juta eksemplar koleksi.

Dalam pelestarian naskah Nusantara, sejumlah capaian strategis pada 2025 antara lain pengakuan UNESCO Memory of the World terhadap Syair Hamzah Fansuri dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian, repatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Selandia Baru, penetapan enam naskah baru sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON), serta pengarusutamaan naskah Nusantara melalui komik, bacaan anak, dan film.

Suharyanto juga menyampaikan bahwa digitalisasi bahan perpustakaan perlu terus dikembangkan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial. Dalam perspektif lintas Pasifik, kerja sama preservasi mencakup interoperabilitas metadata dan objek digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan terhadap bencana, serta kemitraan dengan perpustakaan, arsip, museum, universitas, komunitas, dan pemilik koleksi.

Direktur Eksekutif Fulbright Indonesia Sandra Hamid menyoroti pentingnya menjaga pengetahuan agar dapat diteruskan kepada generasi mendatang. Ia juga mengaitkan upaya tersebut dengan kemampuan masyarakat menggunakan informasi digital secara lebih baik di tengah beredarnya fakta, miskonsepsi, misinformasi, dan disinformasi.

Sandra menempatkan pertukaran pengalaman antara praktisi Indonesia dan Amerika Serikat sebagai bagian dari kolaborasi yang setara. “Ini adalah percakapan di antara pihak-pihak yang setara. Ini bukan tentang mengajar atau diajar, melainkan tentang berbagi informasi dan pengalaman,” ujarnya.

Fulbright Specialist Thomas Rieger memaparkan digitalisasi sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan memori publik. Menurutnya, digitalisasi tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertemukan warisan sejarah dengan literasi dan akses terhadap pengetahuan.

“Digitalisasi menghubungkan sejarah dunia kita dengan literasi. Keduanya saling berkaitan dan saling memperkaya; yang satu tidak akan bermakna tanpa yang lain. Dan institusi yang menyatukan keduanya di seluruh dunia adalah perpustakaan,” ujar Rieger.

Rieger juga memperkenalkan perkembangan teknologi pencitraan untuk material warisan budaya, termasuk Multispectral Imaging System for Historical Artifacts (MISHA). Teknologi pencitraan multispektral tersebut dapat membantu mengungkap informasi pada material yang tidak lagi dapat dilihat secara normal oleh mata manusia.

Sementara itu, Pustakawan Perpusnas Aris Riyadi memaparkan peran pustakawan sebagai penjaga warisan dokumenter melalui konservasi, digitalisasi, dan riset kolaboratif. Paparannya antara lain menampilkan penanganan Babad Diponegoro, preservasi manuskrip Sri Tanjung, serta praktik digitalisasi dan pelestarian warisan dokumenter.

“Kami tuh punya kewajiban. Harus melestarikan itu,” ujar Aris ketika menjelaskan tanggung jawab pelestarian terhadap beragam koleksi Perpusnas.

Ia menjelaskan, pelestarian di Perpusnas mencakup konservasi, digitalisasi, dan preservasi digital, sedangkan hasil digitalisasi disediakan agar dapat diakses masyarakat.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *