Home / News / Perpusnas Bangkitkan Kembali Pengetahuan dari Ratusan Naskah Kuno Nusantara

Perpusnas Bangkitkan Kembali Pengetahuan dari Ratusan Naskah Kuno Nusantara

LintasBisnis.com – Naskah kuno bukan sekadar lembaran tua yang disimpan di ruang arsip. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, sejarah, dan jejak peradaban Nusantara yang masih relevan untuk dipelajari generasi sekarang.

Karena itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) kini mendorong agar naskah kuno tidak berhenti sebagai koleksi yang dilestarikan, tetapi benar-benar “dihidupkan” kembali menjadi sumber pengetahuan yang dapat diakses masyarakat luas.

Hingga September 2026, sebanyak 261 naskah telah didaftarkan melalui Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara) dengan melibatkan 152 lembaga.

Upaya menghidupkan kembali warisan dokumenter tersebut menjadi bagian dari rangkaian “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa” yang digelar pada 23–24 September 2026 di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat.

Ada tiga agenda utama yang diusung, yakni mengalihwahanakan naskah kuno menjadi bahan bacaan yang lebih mudah diakses masyarakat, memperkuat Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan keterkaitannya dengan Memory of the World (MoW) UNESCO, serta memberikan penghargaan kepada insan dan lembaga yang berkontribusi dalam pelestarian naskah kuno Nusantara.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menegaskan, menjaga naskah kuno tidak cukup hanya dengan mempertahankan kondisi fisiknya.

Perpusnas memang melakukan inventarisasi, konservasi, preservasi hingga digitalisasi. Namun, pekerjaan tersebut harus dilanjutkan agar isi naskah dapat dibaca dan dipahami masyarakat.

“Ikhtiar Perpustakaan Nasional dalam merawat peradaban bangsa tidak boleh berhenti pada pelestarian semata, tetapi harus berujung pada pemanfaatan naskah-naskah tersebut,” ujar Aminudin, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, masyarakat perlu diberi kesempatan untuk membaca dan memahami pengetahuan yang terkandung di dalam naskah kuno.

Dengan begitu, pengalaman masa lalu tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi dapat menjadi bahan refleksi untuk menghadapi masa depan.

Salah satu tantangan dalam membuka akses terhadap naskah kuno adalah penggunaan aksara dan bahasa yang tidak lagi umum digunakan masyarakat.

Karena itu, Perpusnas melakukan alih aksara dari aksara asli ke aksara Latin, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Proses tersebut membutuhkan waktu panjang dan ketelitian karena setiap naskah memiliki karakteristik tersendiri.

“Kita tentu tidak boleh berhenti pada saat melakukan konservasi dan preservasi yang hasilnya adalah digitalisasi. Karena memang tugas dan misi kami adalah menjadikan Perpusnas sebagai perpustakaan riset,” kata Aminudin.

Melalui tahapan tersebut, naskah yang sebelumnya sulit dibaca masyarakat umum dapat diolah menjadi sumber pengetahuan yang lebih mudah diakses.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan sebanyak 20 naskah telah terdaftar sebagai IKON sepanjang periode 2020–2025.

Pada 2026, pengajuan kembali meningkat. Sebanyak 14 naskah telah diajukan dan diterima untuk diproses, dengan 11 naskah di antaranya akan diikutsertakan dalam kegiatan pada 24 September 2026.

Perpusnas juga menyiapkan dua nominasi untuk Memory of the World Regional Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) sepanjang 2026–2027. Dua nominasi tambahan direncanakan diajukan pada 2027.

Tidak berhenti pada penelitian dan digitalisasi, Perpusnas juga membawa cerita dari naskah kuno ke medium yang lebih dekat dengan generasi muda.

Sebanyak 25 komik dan buku anak seri Babad Diponegoro dalam bahasa Inggris akan diterbitkan.

Selain itu, Perpusnas menyiapkan 50 komik dan buku anak berbasis naskah IKON dan MoW.

Bahan bacaan tersebut akan diluncurkan pada 23 September 2026 di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan naskah kuno agar tidak hanya dibaca oleh peneliti atau kalangan akademis, tetapi juga dapat dikenalkan kepada anak-anak dan masyarakat umum.

Perpusnas juga membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat yang memiliki naskah kuno.

Aminudin mengatakan, Perpusnas akan memberikan bantuan teknis dalam perawatan dan pelestarian koleksi masyarakat.

Peran pemilik naskah dinilai penting karena banyak warisan dokumenter Nusantara berada di luar institusi pemerintah.

Perpusnas juga menerima usulan nama individu maupun lembaga yang dinilai layak memperoleh penghargaan karena aktif merawat, melestarikan, dan memanfaatkan naskah kuno.

“Mereka bukan hanya merawat naskah, tetapi juga merawat peradaban,” tegas Aminudin.

Perpusnas turut mengembangkan layanan diseminasi dan promosi naskah kuno di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Medan Merdeka Selatan.

Layanan tersebut mencakup peminjaman dan layanan naskah kuno, pemanfaatan ruang, hingga penyelenggaraan pameran.

Melalui rangkaian “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”, Perpusnas ingin memastikan naskah kuno tidak berhenti sebagai benda lama yang tersimpan dan hanya dilihat sesekali.

Warisan dokumenter tersebut diupayakan kembali hadir dalam kehidupan masyarakat melalui digitalisasi, alih aksara, alih bahasa, penerbitan buku, komik, penelitian, hingga berbagai kegiatan diseminasi.

Dengan cara itu, pengetahuan yang diwariskan dari generasi terdahulu dapat terus dibaca, dipelajari, dan menjadi bagian dari perjalanan generasi masa kini dan mendatang.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *