LintasBisnis.com – Memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia kembali meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi tersebut semakin kompleks dengan adanya abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, kabut asap kebakaran hutan, serta periode hari tanpa hujan yang dapat meningkatkan konsentrasi polutan di udara.
Kelompok anak-anak dan lansia menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dilaporkan di Indonesia. Sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, jumlah kasus ISPA telah mencapai lebih dari 10,6 juta kasus.
Peningkatan risiko kesehatan tersebut juga berpotensi berdampak pada kondisi keuangan keluarga. Pengeluaran untuk pengobatan yang tidak direncanakan dapat mengurangi tabungan maupun dana darurat, terutama ketika biaya perawatan medis mengalami kenaikan.
Data internal klaim medis Prudential Indonesia mencatat rata-rata biaya perawatan gangguan pernapasan meningkat 106,3% untuk kelas rumah sakit dan jenis tindakan yang sama. Biaya tersebut naik dari sekitar Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025.
Kenaikan juga terjadi pada fasilitas penunjang perawatan. Tarif kamar rawat inap VIP tercatat meningkat 57%, dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2,35 juta per hari.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan, masyarakat perlu memandang risiko kesehatan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi pencegahan penyakit tetapi juga kesiapan menghadapi biaya ketika perawatan medis diperlukan.
“Ketika berbicara tentang risiko gangguan kesehatan, yang perlu dipersiapkan bukan hanya bagaimana mencegah penyakit, tetapi juga bagaimana menghadapi dampaknya jika perawatan medis dibutuhkan. Di tengah biaya kesehatan yang terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi bagian penting dari kesiapan finansial keluarga,” ujar Yosie.
Menurut dia, upaya pencegahan dan perlindungan perlu berjalan beriringan agar masyarakat lebih siap menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga.
Dari sisi pencegahan, masyarakat dapat menjaga pola hidup bersih dan sehat, memantau kualitas udara, menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, serta segera mendapatkan pemeriksaan apabila mulai mengalami gejala gangguan pernapasan.
Prudential Indonesia juga menjalankan sejumlah inisiatif yang berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan. Di antaranya penanaman mangrove untuk mendukung penyerapan karbon dioksida (CO2) dan pelestarian ekosistem pesisir, serta diskusi lingkungan melalui Earth Talks: The Impacts of Microplastic on Our Health and Earth.
Selain itu, program Desa Maju Prudential turut mendukung masyarakat melalui pengadaan fasilitas air bersih dan edukasi pembuatan area biopori.
Sementara dari sisi perlindungan finansial, Prudential Indonesia menyebut telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp8,9 triliun kepada lebih dari 149.000 nasabah sepanjang semester pertama 2026.
Jumlah tersebut meningkat 26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total pembayaran tersebut, klaim medis mencapai Rp3,3 triliun atau tumbuh 15% secara tahunan.
Melalui semangat “Janji, jadi nyata”, Prudential Indonesia menyatakan terus mendorong masyarakat untuk membangun kesiapan menghadapi risiko kesehatan sekaligus menjaga ketahanan finansial keluarga.
Upaya tersebut mencakup penerapan gaya hidup sehat dan preventif serta kesiapan perlindungan ketika masyarakat menghadapi kebutuhan perawatan medis yang tidak terduga.










